Pemkab Pekalongan Gelar FGD Penyelamatan Manuskrip Kuno, Penghargaan Untuk Pelestarinya Masih Dikaji
Pekalongan, 16 September 2026 — Manuskrip kuno bukan sekadar lembaran naskah tua, melainkan rekam jejak peradaban, pengetahuan, dan warisan identitas masa lalu yang menjadi pijakan pembangunan masa depan. Menyadari pentingnya menjaga histori tersebut, Pemerintah Kabupaten Pekalongan menggelar agenda Focus Group Discussion (FGD) Manuskrip Kuno Kabupaten Pekalongan Tahun 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting, Rabu (16/9/2026).
Mengusung tema “Lestarikan Manuskrip Kuno, Rawat Jati Diri Pekalongan”, diskusi ini menjadi ruang kolaboratif untuk menggali kembali jejak-jejak naskah Nusantara yang tersebar di wilayah Pekalongan. Kegiatan dibuka sejak pukul 08.30 WIB dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan secara interaktif.
FGD ini menghadirkan tiga narasumber yang berkompeten di bidang kearsipan dan perpustakaan, yakni Ahmad Budi Wahyono, S.S. serta Ipuk Wahyu Utami, S.S. dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, serta Diah Kartika, S.E., M.M. dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pekalongan. Jalannya diskusi dipandu oleh Rokhmawan, S.S., M.Ec.Dev., M.A. dari Bapperida Kabupaten Pekalongan selaku moderator.
Dalam kesempatan wawancara, Ahmad Budi Wahyono, S.S. menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian naskah kuno.
“Kegiatan hari ini kegiatannya FGD terkait pentingnya pelestarian naskah kuno yang diadakan oleh Bapperida Kabupaten Pekalongan bekerja sama dengan Dinas Arpusda Kabupaten Pekalongan. Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian naskah kuno. Setelah kegiatan ini akan dilanjutkan oleh tim Dinas Arpus Kabupaten Pekalongan untuk melakukan penelusuran naskah kuno di masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu pihak BAPPERIDA, Rokhmawan menyampaikan bahwa ada beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam mengoordinir permasalahan pelestarian manuskrip kuno.
“Catatan bagi kami sehingga kita bisa lebih komprehensif dalam mengakomodir tadi beberapa permasalahan yang ada khususnya pelestarian manuskrip kuno ini,” terangnya. Pihak BAPPERIDA juga Tengah mempertimbangkan usulan terkait pemberian penghargaan berupa sejumlah nominal uang kepada Masyarakat yang telah menjaga manuskrip kuno tersebut dan secara terbuka mengizinkan untuk dipublikasikan juga dimanfaatkan bagi khalayak ramai. Namun Rokhmawan menyampaikan pihaknya akan berkoordinasi dengan seluruh komponen termasuk Kepala Daerah agar mendapat persetujuan terlebih dahulu.
Lebih lanjut, Ipuk Wahyu Utami menjelaskan terkait hal yang bisa dilakukan ketika mendapat penolakan dari masyarakat.
“Bisa dengan menunjukkan langkah nyata, seperti “Oh, ini naskahnya mau diapakan?” Nah, kita tunjukkan bahwa kita sebenarnya datang untuk melestarikan, untuk merawat, biar lebih lestari lagi dan bukan untuk diakuisisi atau diambil alih, tujuannya biar bisa terjamin sampai nanti hari tua masa yang akan datang,” terangnya.
Salah satu peserta, Ribut Achwandi, berharap kalangan anak muda dapat lebih tertarik dengan naskah kuno.
“Harapan saya sih dengan seperti itukita tidak hanya menguatkan identitas ya atau bahkan menemukan identitas baru barangkali tapi juga membuat kita yakin bahwa ternyata kita itu punya ilmu pengetahuan yang tidak kalah keren dari barat. Itu loh. Jadi nanti supaya anak-anak muda itu FOMO, naskah kuno itu apa sih? apa sih yang bisa kita pelajari dan ambil pelajarannya dari naskah kuno? Sehingga mereka itu mau belajar dengan sungguh-sungguh, syukur-syukur itu mengkaji sampai di kampus itu dikaji, benar-benar dikaji. Ada UIN Gusdur, ada Unikal,” jelasnya.
Ke depannya, masyarakat diharapkan dapat bekerja sama dengan pemerintah dalam upaya melestarikan naskah kuno agar keberadaan manuskrip kuno sebagai bagian dari warisan pengetahuan dan identitas bangsa tetap terjaga.
Jurnalis juga seorang Konsultan Pertanian.
