Infokotaonline.com — Lima negara Eropa pada Sabtu (14/2/2026) secara terbuka menuding Rusia berada di balik kematian tokoh oposisi Kremlin, Alexei Navalny, dengan menggunakan racun langka yang berasal dari katak panah beracun. Tuduhan serius tersebut langsung dibantah Moskow dan disebut sebagai bagian dari propaganda politik Barat.
Dalam pernyataan bersama, Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda menyebut analisis forensik terbaru terhadap sampel tubuh Navalny “secara meyakinkan” mengonfirmasi keberadaan epibatidine—toksin kuat yang secara alami ditemukan pada katak panah beracun di Amerika Selatan dan tidak dikenal berasal dari wilayah Rusia.
Navalny meninggal dunia pada Februari 2024 saat menjalani hukuman di koloni penjara Arktik Rusia. Ia sebelumnya divonis bersalah atas tuduhan ekstremisme dan sejumlah dakwaan lain yang secara konsisten ia bantah, seraya menyebut proses hukum terhadapnya sarat muatan politik.
Dikutip dari Reuters, pemerintah Inggris menilai dugaan peracunan ini mencerminkan “pola perilaku yang sangat mengkhawatirkan.” London mengaitkan kasus Navalny dengan insiden sebelumnya, termasuk peracunan mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal di Inggris pada 2018.
Penyelidikan publik atas kasus Skripal, yang dirilis tahun lalu, menyimpulkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin kemungkinan telah menyetujui penggunaan agen saraf Novichok dalam serangan tersebut. Kesimpulan itu semakin memperkuat kecurigaan Barat terhadap praktik penggunaan senjata kimia oleh Rusia.
Sementara itu, kantor berita pemerintah Rusia, Tass, melaporkan bahwa Moskow menolak temuan terbaru lima negara Eropa tersebut dan menyebutnya sebagai “kampanye informasi yang bermotif politik.” Juru bicara Kedutaan Besar Rusia menilai langkah itu “bukan upaya mencari keadilan, melainkan penghinaan terhadap orang yang telah meninggal.”
Namun, perwakilan Inggris menegaskan bahwa hingga kini tidak ada penjelasan alternatif yang masuk akal mengenai keberadaan epibatidine dalam tubuh Navalny. Menurut pernyataan bersama itu, Rusia dinilai memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk memberikan racun tersebut selama Navalny berada dalam tahanan negara.
Pernyataan yang dirilis hampir tepat dua tahun setelah kematian Navalny itu juga menekankan perlunya Rusia dimintai pertanggungjawaban internasional atas “pelanggaran berulang terhadap Konvensi Senjata Kimia serta, dalam kasus ini, Konvensi Senjata Biologi dan Racun.”
Tuduhan terbaru ini berpotensi memperburuk ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat, sekaligus kembali menyoroti isu perlindungan hak asasi manusia dan keselamatan tokoh oposisi di Rusia.
(Reuters)
