Konsultan Pertanian Yonif 407 Akui Ketar-Ketir Soal Cuaca Extrem: Akhirnya Panen Juga!
Pekalongan, 19 Februari 2026 – Cuaca extrem pada masa tanam November hingga Februari 2026 cukup menguras energi bagi para pemikir teknis pertanian di lahan ketahanan pangan Kompi Senapan C Yonif 407 PK Pekalongan. Pasalnya selain harus memikirkan bagaimana nutrisi bisa diserap dengan baik oleh tanaman, pertanaman kali ini sangat riskan dengan faktor resistansi cuaca.
Pembilasan nutrisi yang diaplikasikan pada media tanam dan anatomi tumbuhan seperti pupuk daun sangatlah rentan. Semua produk yang diberikan kepada tanaman rawan mengalami pengurangan akibat tingginya curah hujan dan potensi kerusakan tanaman akibat luka mekanis dari hempasan angin kencang menjadi faktor X penghambat kesuburan tanaman.
Handono Warih, konsultan nutrisi pertanian dari Deruci Agrikultur merasakan sendiri sulitnya menjaga kesehatan tanaman Jagung dengan intensitas hujan yang terbilang extrem ini. “ Sepanjang Januari hingga Februari intensitas hujan sangat rapat tiap harinya, bisa pagi, siang, malam, bahkan dini hari. Tentunya itu bisa membilas nutrisi tanaman yang sudah kita aplikasikan, karena nutrisi tanaman bersifat elektrolit dan mudah sekali tercampur air bahkan hanyut ikut terlarut dengan banyaknya debit air hujan yang masuk ke lahan.” Ujarnya.
Puji Surwanoto, selaku suplayer benih jagung dari perusahaan Maxxi Agri Indonesia juga sempat merasakan kekhawatirannya dengan potensi kerusakan tanaman akibat angin kencang pada 10 Januari 2026 lalu. “ Saya langsung pantau tanaman yang rebah kena angin kencang, pengisiannya bagaimana, alhamdulillah yang tidak nempel dengan tanah masih ada isinya jagungnya ngga kopong atau dimakan jamur. Pastinya cuaca extrem mengurangi hasil panen, tapi kita bersyukur masih bisa melihat keluaran panen yang sebagus ini.” Ujar Puji.
Puji menambahkan, “Jangankan tanaman Jagung, sengon saja ambruk itu yang di samping kebun kita, ya semua ini faktor alam ya… kita sudah berupaya semaksimal mungkin tapi namanya alam itu ngga bisa dilawan.”
Handono mengaku bekerja lebih extra pada sisi input nutrisi di pertanian Jagung kali ini. Ia memberlakukan konsentrasi lebih tinggi dan pekat dan interval lebih banyak untuk suplai nutrisi bagi tanaman ketahanan pangan Yonif 407 ini. “Jujur saya kasih input lebih banyak pada sesi kali ini, juga setelah kejadian angin kencang pada awal fase generatif usia tanaman 70 hari. Dengan aplikasi melalui drone sprayer kami tambahkan unsur hara mikro yang tergolong pekat setara 400 ppm untuk dipaparkan ke body tanaman, harapannya ketika dibilas oleh air hujan nutrisi yang belum terserap bisa lebih solid masuk ke tenah dan diserap perlahan oleh akar tanaman.”
“Intinya antisipasi kali ini dengan melebihkan pemberian pakan pada tanaman namun terukur agar nutrisi yang terbilas oleh air hujan masih ada cadangannya. Baik aplikasi hara makro dan mikro kita ngga bisa terlalu irit buat hadapi cuaca extrem. Tentunya dengan bantuan mikroorganisme lokal dari jenis BAL untuk meningkatkan daya rekat nutrisi dan daya serap tanaman.” Pungkasnya.
Di sisi lain menurut keterangan banyak pihak termasuk Teguh Ning, Kabid Tanaman Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pekalongan, saat ini tanaman jagung banyak terkendala cuaca dan patogen. “Di banyak lokasi, tanaman Jagung saat ini banyak terserang jamur dan busuk batang, ini yang di lahan 407 bisa bertahan sampai finish begini sudah bagus, karena musuhnya tanaman pangan pada cuaca extrem ya patogen seperti virus, jamur, dan bakteri.”
Har
