Degradasi Makna Kata Santri Perlu Kita Sadari, Dr. Kurdi Ingatkan Saat Diskusi Hari Santri
Kota Pekalongan, 24 Oktober 2025 – Dalam peringatan hari santri 2025, PCNU Kota Pekalongan menggelar serangkaian kegiatan. Salah satunya diadakannya diskusi keagamaan dengan konteks Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.
Kegiatan diskusi ini dilangsungkan pada Kamis, 23 Oktober 2025 di gedung Aswaja Kota Pekalongan, Pukul 20:00 WIB hingga 23:00 WIB. Sejumlah santri dan pengajar hadir ikut menghadiri diskusi ini dan aktif berdiskusi.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Gus Haidar Khilmi dan diisi oleh pemantik Dr. Kurdi Fadal, M.Si ini berjalan sangat meriah dengan obrolan saling mengisi antara pemantik dan peserta diskusi.
Seusai kegiatan publik ditutup oleh moderator, sejumlah peserta diskusi melanjutkan obrolan ringan namun berisi bersama Dr. Kurdi. Banyak point diskusi yang menarik dalam pembicaraan pasca agenda umum. Obrolan ke-NU-an hingga geo politik dibahas guna mempertajam pemahaman para santri dan pengajar yang haus akan ilmu.
Salah satu peserta diskusi yang turut aktif bertanya jawab adalah Master Ribut Achwandi. Dalam obrolannya Kang Ribut sapaan akrabnya, mempertanyakan apakah dirinya termasuk santri atau bukan. Pasalnya dirinya merasa tidak pernah nyantri di pondok pesantren namun sangat tertarik untuk mengkaji keilmuan Islami.
Menanggapi pernyataan Kang Ribut yang dirasa menggelitik bagi seorang dosen di kampus UIN Gusdur Pekalongan, Dr. Kurdi pun menanggapi,
“Intinya belajar belajar belajar, belajar yang ke-3 itu menulis, yang ke-2 itu mengajar, pertama itu membaca.” ujarnya.
Ia menambahkan, “Namun sayang selama ini sepertinya kita telah salah mengartikan makna santri. Kata santri seperti telah mengalami penyempitan makna. Jangan-jangan kita telah mendegradasi makna kata santri itu sendiri.”
Tak hanya di situ saja, Dr. Kurdi memperjelas,”Semestinya siapapun pembelajar dalam IsIam itu disebut santri, seperti contoh anda yang hadir di sini sering dengerin pengajian, sering datang ke gedung Aswaja ini kan? Apakah itu tidak bisa disebut santri?”
Pesan moral terpenting pada moment hari santri kali ini dari Dr. Kurdi adalah, “Diskusi seperti ini dapat membangun kemajuan islam, dahulu Nabi Muhammad juga berdiskusi. Baca kitab itu penting, namun membaca situasi sosial kita juga tidak kalah penting.” Tandasnya.
Drc
Jurnalis juga seorang Konsultan Pertanian.
