176 Siswa SDN Mulyorejo Belajar Daring Akibat Banjir, Durasi Belum Ditetapkan
PEKALONGAN, 5 Februari 2026 – Sebanyak 176 siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mulyorejo di Kecamatan Tirto, Desa Mulyorejo, menjalani pembelajaran daring akibat banjir yang melanda daerah tersebut. Belum ada kepastian kapan pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan.
Menurut Guru Khusnul dari SDN Mulyorejo, seluruh siswa terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam atau berada di zona rawan banjir. “Ada yang mengungsi di posko Kopindo, ada juga yang tinggal bersama keluarga di luar daerah terdampak,” ujarnya.
Saat ini kondisi ruang belajar mengajar juga terendam banjir setinggi 30 cm di dalam lingkungan sekolah dan 80 cm di jalanan menuju lingkungan sekolah. Selain ditugaskan mengajar melalui daring, guru juga hanya diberikan tugas untuk hadir ke sekolahan dan memberikan laporan kehadiran kepada institusi kedinasannya.
Meskipun pembelajaran dilakukan secara daring, pihak sekolah tidak memaksakan siswa untuk menyelesaikan tugas. “Efektivitasnya memang kurang karena tidak ada sumber belajar yang jelas. Jika ada tugas, anak bisa mencari referensi dari Google atau meminta bantuan orang tua,” jelas Guru Khusnul.
Banyak siswa juga kehilangan perlengkapan sekolah seperti seragam, sepatu, dan alat tulis karena rumah mereka terendam banjir. Dalam hal komunikasi dengan dinas pendidikan, sekolah tetap melakukan absensi dan telah mendapatkan surat tugas untuk pembelajaran daring dari kepala sekolah. Pihak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan juga telah memberikan izin untuk pembelajaran daring mengingat kondisi musibah yang terjadi.
Harapan utama dari pihak sekolah adalah banjir segera surut sehingga aktivitas belajar dapat kembali berjalan seperti biasa.
Sementara itu, Tuflikhah perangkat desa setempat menyatakan keprihatinannya atas musibah banjir yang telah menggenang desanya selama 20 hari berturut-turut. Ia menceritakan betapa traumanya dia saat suara gemuruh air bah meluap dari tanggul sungai Sengkarang yang jebol. “Saya takut sekali saat itu, opo iki pak kiamat po yo… Aku sedih banget mas, ngeriii.” Ujarnya saat menceritakan kejadian awal banjir di desanya.
Tuflikhah menyampaikan harapannya agar sungai Sengkarang segera dinormalisasi dan tanggulnya ditinggikan. “Kami berharap agar sungai Sengkarang dinormalisasi dan tanggul dibenahi, kami juga sudah ingin situasi kembali normal.” Tandasnya.
