Infokotaonline.com
Pekalongan – Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Harun Abdul Khafizh, meninjau langsung lokasi banjir di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Selasa (20/1/2026) sore. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi riil warga terdampak sekaligus melakukan asesmen kebutuhan mendesak di lapangan.
Dalam peninjauan itu, Harun hadir bersama sejumlah komunitas peduli lingkungan dan kebencanaan, di antaranya Banawasekar, LPBI NU, serta Lintas Komunitas Peduli Pekalongan (LKPP). Selain berdialog dengan warga dan tokoh masyarakat setempat, rombongan juga menyalurkan bantuan awal meski masih terbatas.
“Alhamdulillah, hari ini kami bisa turun langsung ke lokasi banjir di Desa Mulyorejo untuk melakukan asesmen kebutuhan dan melihat langkah-langkah ke depan yang diperlukan. Beberapa bantuan sudah kami dropping, meskipun jumlahnya masih terbatas,” ujar Harun di sela kunjungan.
Ia memastikan, bantuan lanjutan akan segera menyusul. Pada Selasa malam, bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan berupa 500 kilogram beras direncanakan didistribusikan ke tiga desa terdampak. Selain itu, bantuan selimut, kasur, serta diapers juga tengah dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan kelompok rentan, terutama balita dan lansia.
“Insyaallah malam ini menyusul 500 kilogram beras. Besok juga akan ada selimut dan kasur, meskipun jumlahnya terbatas. Untuk diapers, kebutuhannya baru teridentifikasi hari ini, jadi masih perlu persiapan,” jelasnya.
Lebih jauh, Harun menekankan bahwa peristiwa banjir ini harus menjadi bahan evaluasi penting dalam penguatan manajemen kebencanaan. Menurutnya, sistem yang sudah ada perlu terus diperkuat agar respons pada fase tanggap darurat bisa lebih cepat dan efektif, terutama karena banyak warga memilih bertahan di rumah meski genangan belum surut.
Ia juga menyoroti pentingnya pembenahan aliran sungai dari hulu hingga hilir. Tingginya curah hujan akibat anomali iklim, kata Harun, harus diimbangi dengan peningkatan tutupan hijau dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
“Upaya seperti yang dilakukan teman-teman Banawasekar dengan mempelopori hutan mangrove di wilayah hilir harus terus diperkuat. Di wilayah hulu juga perlu dukungan berkelanjutan bersama komunitas forestry, Sodo Lanang, LKPP, dan komunitas lainnya,” katanya.
Harun mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk BPDAS dan Dinas Kehutanan, untuk bergerak bersama tanpa saling menyalahkan. Ia juga mendorong penguatan sinergi dengan Dinas Sosial, BNPB, dan BPBD agar kesiapsiagaan bencana di Jawa Tengah semakin matang.
“Mari kita bersama-sama meningkatkan kesiapsiagaan bencana di semua daerah di Jawa Tengah,” pungkasnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Mulyorejo, Sania, mengungkapkan banjir telah merendam wilayahnya selama beberapa hari dengan ketinggian air mencapai di atas lutut orang dewasa. Desa Mulyorejo yang berada di wilayah paling utara Kabupaten Pekalongan kini nyaris terisolasi, karena akses menuju jalur Pantura sejauh sekitar satu kilometer tidak bisa dilalui kendaraan.
“Aktivitas warga hampir lumpuh karena akses motor sama sekali tidak bisa dilalui. Kondisi ini membuat desa seperti terisolasi dan kunjungan dari pemerintah juga terkendala,” ungkap Sania.
Ia berharap ke depan ada dukungan yang lebih kuat dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk penataan lingkungan serta penguatan ekosistem. Menurutnya, langkah tersebut menjadi kunci agar banjir tidak terus berulang dan berdampak berkepanjangan bagi warga Mulyorejo dan sekitarnya.
“Kami butuh support dari pemerintah, baik Pemda maupun pihak-pihak terkait, untuk bekerja sama dengan kami, terutama kelompok tani Banawasekar, dalam penataan lingkungan dan ekosistem, supaya banjir tidak terus-menerus terjadi,” ujarnya.
(war)
