Infokotaonline.com
Pekalongan – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, H. Sukirman, menegaskan bahwa arah pembangunan daerah harus bertumpu pada data dan kajian ilmiah, bukan sekadar asumsi atau meniru program lama. Penegasan itu disampaikan saat menjadi narasumber dalam halaqah kebangsaan dan halal bihalal yang digelar Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Pekalongan di Teman Cerita Coffee & Space, Wonopringgo, Minggu (26/4/2026).
Menurut Sukirman, pembangunan yang tidak didasarkan pada riset berpotensi melahirkan kebijakan yang tidak relevan dengan dinamika zaman. Ia menilai, pendekatan berbasis data menjadi prasyarat penting agar setiap program dapat diukur serta dipertanggungjawabkan secara publik.
“Pembangunan tidak boleh sekadar imajinasi atau mengulang program lama. Perubahan zaman menuntut adaptasi yang berbasis kajian ilmiah,” ujarnya.
Lebih jauh, Sukirman menekankan pentingnya keterlibatan kalangan intelektual sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus kontrol sosial. Dalam hal ini, ISNU dinilai memiliki peran vital untuk memberikan masukan kritis serta perspektif akademik terhadap kebijakan pembangunan daerah.
Ia juga mengapresiasi keikutsertaan ISNU dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Menurutnya, partisipasi tersebut menjadi langkah positif dalam memperkuat kualitas perencanaan pembangunan yang lebih inklusif dan berbasis kebutuhan masyarakat.
“Keterlibatan intelektual sangat penting untuk membantu pemerintah melihat persoalan secara lebih komprehensif, termasuk memberikan kritik yang konstruktif,” tambahnya.
Di sisi lain, Sukirman tidak menampik masih adanya sejumlah persoalan internal birokrasi, seperti rendahnya inovasi dan kecenderungan menjalankan program yang bersifat repetitif. Ia mengakui, tantangan terbesarnya saat ini adalah memulihkan kepercayaan publik sekaligus mendorong kinerja birokrasi agar lebih adaptif dan progresif.
Selain itu, persoalan infrastruktur juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kerusakan jalan, banjir rob, serta berbagai kebutuhan dasar masyarakat menjadi isu yang terus mendapat perhatian. Pemerintah daerah, kata dia, telah menyiapkan langkah konkret, termasuk pengalihan anggaran untuk perbaikan infrastruktur secara bertahap.
“Aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui berbagai kanal menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbenah,” tegasnya.
Sukirman juga membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya dengan akademisi dan organisasi masyarakat. Melalui Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset Daerah (Bapperida), ia berharap potensi daerah, termasuk sumber pendapatan, dapat digali secara maksimal melalui pendekatan riset.
Sementara itu, Dosen Pascasarjana UIN Gus Dur Pekalongan sekaligus mantan Bupati Pekalongan, Siti Qomariyah, menyoroti pentingnya sinergi antara ulama, umara, dan kalangan intelektual dalam pembangunan daerah. Ia menyebut, kolaborasi tersebut menjadi fondasi untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat secara menyeluruh.
“Pembangunan tidak hanya soal fisik, tetapi juga menyangkut kesejahteraan dan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih luas,” ujarnya.
Senada, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Muslih Khudlori, menekankan bahwa konsep “Kota Santri” harus diwujudkan melalui pembangunan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan. Ia mendorong peran aktif santri sebagai agen perubahan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan organisasi kemasyarakatan.
Kegiatan halaqah tersebut menghadirkan sejumlah narasumber kompeten dan dimoderatori Ketua ISNU Kabupaten Pekalongan, Muhammad Nasruddin. Acara juga dihadiri unsur pemerintah daerah, tokoh ulama, serta pengurus ISNU setempat.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, intelektual, dan masyarakat, Sukirman optimistis pembangunan Kabupaten Pekalongan dapat berjalan lebih terarah, seimbang, dan berkelanjutan.
(war)
