Belum Ada Surat Edaran Resmi, Masyarakat dan Relawan Kabupaten Pekalongan Tanyakan Status Tanggap Darurat Banjir
Kabupaten Pekalongan, 30 Januari 2026 – Selama 15 hari sejak banjir dan lumpur melanda bagian utara Kabupaten Pekalongan, masyarakat terdampak serta relawan masih mempertanyakan penetapan status tanggap darurat yang resmi. Hal itu disampaikan Handono Warih, Koordinator Umum NGO LKPP (Lintas Komunitas Peduli Pekalongan), yang selama ini berjibaku bersama relawan dalam menangani dampak bencana.
Menurut Handono, meskipun telah ada instruksi dan perintah lisan kepada semua komponen untuk fokus pada pemulihan, belum pernah diterima surat edaran resmi tertanda tangan Bupati atau perwakilannya yang menetapkan status tanggap darurat. Hal ini berbeda dengan Kota Pekalongan yang secara terang-terangan telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari dan memperpanjang hingga 13 Pebruari 2026.
Selain itu Ahmad Aaf Djunaid, Walikota Pekalongan, Jumat, 30 Januari 2026 juga menurunkan beras untuk ketahanan pangan tanggap darurat sejumlah 13 Ton melalui Bulog untuk penyediaan logistik dapur umum di Kota Pekalongan.
“Jika status tanggap darurat resmi, alokasi anggaran darurat akan dicairkan dan percepatan pemulihan akan lebih baik,” ujarnya. Selain ketidakjelasan status, relawan juga menantikan aksi nyata dari pejabat, terutama terkait kunjungan dan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak serta penanganan masalah pengungsian. Berbagi dan mendengarkan keluhan masyarakat dianggap penting untuk melegakan hati mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Sampai saat ini, penetapan status tanggap darurat Kabupaten Pekalongan masih hanya sebatas himbauan, tanpa dasar hukum formal yang jelas.
Sedimentasi sungai Sengkarang jadi masalah
Selain itu, kondisi sungai di wilayah terdampak juga memprihatinkan. Pada foto sedimentasi lumpur di Sungai Sengkarang, terlihat betapa parahnya endapan lumpur yang menutupi bagian sungai. Teguh Winarko, Staff CDK IV (Cabang dinas kehutanan wilayah empat) Jawa Tengah, menyatakan bahwa sedimentasi terjadi di sebelah barat sekretariat KTH Banawa Sekar akibat banjir kali ini. “Sebelumnya, daerah itu dimanfaatkan untuk tambak oleh warga desa, termasuk sempadan sungai yang kini dangkal akibat sedimentasi.” katanya. Dengan asumsi tebal sedimentasi 1 meter dan luas lebih dari 200 meter persegi, ia menyatakan bahwa dapat dibayangkan seberapa banyak tanah yang longsor atau terkena erosi permukaan.
Har
