NAKES PUSKESMAS TIRTO 2 BERKACA-KACA SAAT TANGANI PENGUNGSI DESA MULYOREJO
“Perjalanan menuju lokasi pengungsian harus ditempuh dengan perahu, air mencapai tinggi atas dengkul orang dewasa. Meski demikian, pelayanan kesehatan tidak pernah terhenti.” Ujar Yanti, Nakes Puskesmas Tirto 2.
KABUPATEN PEKALONGAN, DESA MULYOREJO (4 FEBRUARI 2026) – Tanggal 4 Februari 2026 pagi sekitar pukul 09.30, tiga orang tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Tirto 2 berangkat menuju Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan.
Perlu diketahui bahwa Puskesmas Tirto 2 merupakan unit pelayanan kesehatan yang berdiri sendiri, tidak termasuk dalam wilayah pelayanan Puskesmas Tirto Kota Pekalongan maupun Puskesmas Tirto 1 Kabupaten Pekalongan. Banjir yang melanda desa ini sejak 17 Januari 2026 hingga saat ini masih belum surut, membuat jalan menuju lokasi pengungsian tergenang air setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa.
Perjalanan kali ini harus ditempuh dengan bantuan atlit pendayung perahu naga club Reank desa Mulyorejo menggunakan perahu. Pasalnya jalanan desa kini seluruhnya terendam air bah, sehingga jalanan berubah layaknya sungai.
Mereka adalah Yanti, Dian Kusumawar Dhani, dan Madu – tim yang ditugaskan untuk melakukan pengobatan darurat siaga banjir di pengungsian TPK Nurul Iman di bawah komando Kapus dr. Nailul Khusna.
Puskesmas Tirto 2 sendiri melayani beberapa desa di Kecamatan Tirto, yaitu; Karangjompo, Tegaldowo, Mulyorejo, dan Desa Jeruksari, Kabupaten Pekalongan.
50 ORANG PENGUNGSI TAHAN 19 HARI DI KONDISI TERBATAS

Di pengungsian TPQ Nurul Iman, terdapat sekitar 50 orang warga yang telah mengungsi selama kurang lebih 19 hari sejak banjir pertama kali melanda pada 17 Januari 2026. Mulai dari balita hingga lansia yang mengalami kesulitan mobilitas, semua harus beradaptasi dengan kondisi ruang yang terbatas.
“Alhamdulillahnya ada tempat yang agak tinggi, jadi untuk MCK masih bisa digunakan, mandi dan cuci pakaian juga tetap bisa dilakukan,” ujar Taufik saat menjelaskan kondisi dasar pengungsian.
Namun, tantangan muncul pada kebutuhan makan sehari-hari. Warga mendapatkan bantuan makanan dasar dari BPBD Kabupaten Pekalongan dan donatur, tetapi harus memasak sendiri dengan keterbatasan bumbu dan bahan bakar gas. “Kita mengadakan iuran bersama agar dapur darurat bisa tetap berjalan,” tambahnya.
PENYAKIT SANITASI DOMINASI, OBAT RUTIN JUGA DIPERHATIKAN

Selama pemeriksaan awal, tim kesehatan menemukan bahwa sebagian besar pengungsi mengeluhkan gatal-gatal pada kulit. “Seperti biasa pada kondisi banjir yang berkepanjangan, masalah sanitasi menjadi penyebab utama penyakit – gatal-gatal, diare, batuk pilek, dan juga pegel-pegel akibat kurangnya ruang untuk beraktivitas,” jelas Yanti.
Tidak hanya menangani keluhan akut akibat banjir, tim juga menyediakan obat rutin untuk pengungsi yang menderita penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus. “Kami sudah menyiasati dengan memberikan obat cukup untuk 10 hari ke depan. Semoga dalam waktu itu air sudah surut dan mereka bisa kembali ke rumah,” harap mereka.
KASUS KHUSUS PENYAKIT JIWA, DIBUTUHKAN KOORDINASI DENGAN RUMAH SAKIT
Dalam kunjungan tersebut, tim menemukan satu kasus pengidap penyakit jiwa yang biasanya berobat rutin ke Rumah Sakit Umum Djunaid Pekalongan. “Kita tidak bisa memberikan obat pengganti untuk penyakit jiwa, hanya bisa menangani keluhan fisik seperti tidak enak badan yang dirasakan pasien,” jelas Madu.
Tim telah berkonsultasi langsung dengan petugas kesehatan jiwa di Puskesmas Tirto 2 dan menyarankan kepada keluarga pasien untuk segera membawanya ke RSU Djunaid jika kondisinya memburuk. “Keluarganya melaporkan bahwa pasien terkadang sulit dikendalikan, jadi jika benar-benar tidak bisa ditangani di sini, segera bawa ke rumah sakit yang menangani,” tambahnya.
PUSKESMAS TIRTO 2 TERGENANG, PELAYANAN BERLANJUT DI POSKO KESEHATAN

Tak hanya di lokasi pengungsian, Puskesmas Tirto 2 sendiri juga terkena dampak banjir. Air genangan mencapai setinggi betis orang dewasa, membuat akses ke puskesmas menjadi sangat sulit.
“Sejak lima hari yang lalu (mulai hari Sabtu, 30 Januari 2026), pelayanan kesehatan sementara dipindahkan ke posko kesehatan yang diselenggarakan dengan menyewa bangunan di depan Masjid Annur desa Jeruksari,” jelas Madu.
Desa Jeruksari masih merupakan bagian dari Kabupaten Pekalongan, saat ini kondisinya tergolong lebih baik jika dibandingkan dengan desa Mulyorejo secara kondisi genangan. Sehingga pilihan mendirikan Puskesmas Darurat di lokasi tersebut dinilai cukup relevan. Juga, dinilai lokasi tersebut tidak terlalu jauh dari gedung Puskesmas Tirto 2 yang kini terendam banjir, hanya sekitar 1 Km.
PERHATIAN KHUSUS UNTUK IBU HAMIL, KOORDINASI DENGAN BIDAN DESA

Untuk mengantisipasi kelahiran di tengah kondisi darurat, tim Puskesmas Tirto 2 bekerja sama dengan bidan desa yang bertugas di wilayah pelayanan puskesmas tersebut untuk mengidentifikasi ibu hamil yang mendekati hari perkiraan lahir (HPL). “Kami meminta bantuan bidan desa untuk mengingatkan dan membantu ibu hamil agar mengungsi di lokasi yang lebih dekat dengan jalan atau daerah yang tidak tergenang, sehingga bisa segera dirawat ke posko kesehatan Puskesmas Tirto 2 atau langsung ke salah satu RSUD di Pekalongan jika diperlukan,” jelas Madu.
HARAPAN: SEMOGA BANJIR SEGERA SURUT DAN BANTUAN DATANG DARI BERBAGAI PIHAK
Setelah 19 hari banjir genangan terjadi, dan sebagian dari 3.800 orang warga Mulyorejo mengungsi, warga dan tim kesehatan Puskesmas Tirto 2 sama-sama berharap bencana banjir segera berakhir. “Bagi para pencari nafkah, 19 hari ini sangat sulit. Banyak yang sakit tapi tidak bisa datang langsung ke kita, akses rujukan juga terbatas karena kondisi jalan yang tergenang,” ucap Dian dengan suara penuh haru.
“Kita berharap tidak hanya air yang segera surut, tetapi juga banyak pihak yang bisa memberikan bantuan – baik dalam bentuk kebutuhan dasar, obat-obatan, maupun dukungan lainnya. Kondisi warga di wilayah pelayanan Puskesmas Tirto 2 benar-benar membutuhkan pertolongan dari semua kalangan,” pungkas Yanti.
Drc
