PEKALONGAN- Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya menggelar kegiatan “Panggung Rakyat” di 0 KM Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jumat (28/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIB tersebut menjadi ruang ekspresi mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi melalui berbagai pertunjukan dan kegiatan kebudayaan.
Panggung Rakyat diisi dengan sejumlah agenda, mulai dari puisi, teatrikal, musik, lapak rakyat, lapak buku, hingga berbagi hasil tani, pakaian layak pakai dan kerajinan tangan. Kegiatan tersebut mengusung semangat mempertemukan gerakan mahasiswa dengan masyarakat melalui ruang yang terbuka, kreatif, dan inklusif.
Sejak sore, suasana di Kajen mulai diramaikan oleh peserta dan masyarakat. Berbagai pertunjukan seni menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Puisi dan teatrikal digunakan sebagai medium untuk menggambarkan keresahan masyarakat, sementara musik dan kegiatan kebudayaan menjadi sarana membangun suasana kebersamaan.
Selain menjadi ruang penyampaian aspirasi, Panggung Rakyat juga menghadirkan lapak rakyat yang menampilkan hasil tani dan produk kerajinan. Kehadiran lapak tersebut menjadi simbol bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya berbicara mengenai persoalan politik, tetapi juga perlu memberikan perhatian terhadap kehidupan ekonomi masyarakat dan potensi lokal.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya dengan melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa dan elemen kemahasiswaan di Pekalongan.
Ketua Umum HMI M. Ilyas Djazuli dalam tanggapannya menilai kegiatan seperti Panggung Rakyat penting untuk mengembalikan gerakan mahasiswa pada akar perjuangannya, yakni keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
“Mahasiswa tidak boleh hanya hadir di ruang-ruang akademik dan organisasi. Mahasiswa harus mampu hadir di tengah masyarakat, mendengar keresahan mereka, sekaligus menjadi bagian dari upaya mencari solusi atas persoalan yang dihadapi rakyat.”
Menurutnya, penyampaian aspirasi tidak selalu harus dilakukan melalui aksi demonstrasi. Seni, kebudayaan, diskusi, dan ruang publik juga dapat menjadi medium perjuangan untuk membangun kesadaran masyarakat.
Sementara itu Sekretaris Umum HMI Rifki Aditya juga dalam tanggapannya
“Panggung rakyat ini menunjukkan bahwa menyampaikan kritik bisa dilakukan dengan cara yang kreatif dan bermartabat. Puisi, musik, teatrikal, buku, hasil tani, dan karya masyarakat semuanya dapat menjadi bahasa perjuangan.”
Ia juga menegaskan bahwa gerakan mahasiswa harus tetap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah, namun kritik tersebut perlu dibarengi dengan data, gagasan dan solusi.
“Kita tidak ingin menjadi generasi yang hanya pandai mengkritik. Setiap kritik harus disertai data, gagasan, dan setiap gagasan harus memiliki keberpihakan kepada kepentingan rakyat.”
Lebih lanjut, Ketua Umum HMI dan seluruh elemen yang hadir berharap Panggung Rakyat dapat menjadi ruang konsolidasi antara mahasiswa, pemuda, pelaku seni, petani, pelaku UMKM, dan masyarakat secara luas.
“Kita ingin membangun tradisi bahwa kampus dan organisasi mahasiswa tidak berjarak dengan rakyat. Ketika persoalan rakyat dibicarakan, mahasiswa harus berada di sana. Ketika rakyat membutuhkan ruang untuk bersuara, mahasiswa harus ikut membuka ruang tersebut.” Pungkasnya.

