Rubrik Opini
Korban Banjir Tirto Pekalongan Alami Beban Psikologis Berat, Aktivis dan Relawan Juga Tertekan
Kondisi diperparah oleh kurangnya pemahaman pemimpin dan kebijakan yang tidak menyentuh akar masalah
PEKALONGAN, 6 Februari 2026 – Korban banjir yang menggenangi wilayah Kecamatan Tirto, termasuk Desa Mulyorejo dan sekitarnya, mengalami dampak psikologis yang signifikan akibat berkepanjangnya kondisi darurat serta kurangnya tanggapan yang optimal dari pihak berwenang. Hal ini disampaikan dalam analisis yang didukung oleh referensi ilmiah psikologi dan dikonfirmasi oleh narasumber ahli psikologi, Tarin L. C., S.Psi.
Sebelumnya, warga telah bertahan hidup dalam ketidakpastian tanpa perubahan kondisi yang nyata, bahkan diperparah dengan kebijakan makro yang belum mampu mendorong proses perbaikan dan peningkatan situasi banjir yang berlangsung cukup lama.
Dampak Psikologis pada Korban Bencana
Menurut Tarin L. C., S.Psi., berdasarkan teori stres dan trauma yang tercantum dalam literatur ilmiah, korban mengalami serangkaian gangguan psikologis. “Mekanisme psikologis menunjukkan bahwa kurangnya dukungan dan kebijakan yang tidak efektif dapat menyebabkan stres kronis, depresi, hingga trauma berkepanjangan seperti PTSD,” jelasnya.
Dampak yang muncul meliputi perasaan cemas berkelanjutan, sulit tidur, hilangnya semangat untuk membangun kembali kehidupan, hingga isolasi sosial. Korban juga merasakan marah dan hilangnya kepercayaan pada institusi, yang berdasarkan teori psikologi sosial dapat menghambat dinamika komunitas dan proses pemulihan.
Aktivis dan Relawan Juga Merasakan Beban Emosional
Tidak hanya korban, aktivis dan relawan yang terus memperjuangkan hak hidup masyarakat juga menghadapi tantangan psikologis. Tarin menjelaskan bahwa mereka sering mengalami kelelahan emosional, frustasi akibat kurangnya perubahan, serta konflik emosional akibat harus menghadapi kesusahan korban sekaligus hambatan dalam perjuangan.
“Dalam beberapa kasus, mereka juga berisiko mengalami stigmatisasi dan isolasi, yang menambah beban psikologis yang sudah ada,” tambahnya.

Rujukan Ilmiah Mendukung Analisis
Analisis dampak psikologis ini didukung oleh berbagai sumber pustaka ilmiah yang valid, antara lain hasil penelitian Norris et al. (2002) tentang respons korban bencana, serta studi Galea et al. (2005) mengenai epidemiologi PTSD pasca bencana. Sumber lain meliputi buku teori psikologi dari Zimbardo & Gerrig, Santrock, dan Feist & Feist, yang menjadi rujukan standar di lingkungan kampus.
Terintegrasi juga konsep dari psikologi positif yang berpotensi digunakan untuk membantu korban dan relawan membangun kembali harapan, serta metodologi penelitian yang menjamin validitas data terkait dampak psikologis.
Tantangan dalam Intervensi Psikologis
Saat ditanya tentang upaya penanganan, Tarin mengungkapkan bahwa tantangan praktis muncul karena kondisi lingkungan dan kebijakan yang belum mendukung. “Perlu kerangka kerja yang komprehensif, tidak hanya dari sisi psikologis tetapi juga kebijakan publik yang benar-benar menyentuh akar masalah banjir dan kebutuhan warga,” ujarnya.
