Kolom Redaksi
21 Hari Terendam Banjir, Relawan Mulyorejo Mulai Alami Stres dan Depresi
Pekalongan (6 Februari 2026) – Para aktivis dan relawan mandiri warga terdampak banjir di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan mulai mengalami tekanan psikologis berupa stres dan depresi setelah wilayah tersebut terendam air selama 21 hari sejak 17 Januari 2026.
Seorang relawan yang tidak ingin disebutkan nama (disebutkan sebagai Sodron) mengaku kehilangan ketahanan mental karena tidak dapat bekerja untuk mencari penghasilan, namun harus terus menyemangati teman-temannya dan berjaga di posko tanggap darurat. Ia mengaku kelelahan fisik dan mental setelah bertugas menjaga stabilitas sosial, mengelola barang donasi, serta melayani warga dan donatur yang harus menggunakan perahu karena jalanan desa tergenang seperti sungai.
Situasi semakin memprihatinkan karena pejabat yang diharapkan belum kunjung datang untuk memperhatikan kondisi psikologis masyarakat maupun mendengarkan curahan hati para relawan dan warga terdampak. Hingga kini, 100% wilayah desa terendam air dengan ketinggian rata-rata 80 cm hingga 1 meter, dan luas wilayah yang tergenang mencapai 75 hektare. Kondisi belum menunjukkan tanda pemulihan akibat hujan yang terus turun setiap hari. Warga saat ini menunggu penetapan status tanggap darurat oleh pemerintah daerah agar penanganan pemulihan dapat segera dilakukan.
Menurut buku Manajemen Bencana (2022) karya Moh. Rivai Nakoe dan Nur Ayini S. Lalu, “Tanggap Darurat Bencana adalah serangkaian tindakan yang diambil secara cepat menyusul terjadinya suatu peristiwa bencana, termasuk penilaian kerusakan, kebutuhan (damage and needs assessment), penyaluran bantuan darurat, upaya pertolongan, dan pembersihan lokasi bencana.” Buku tersebut juga menjelaskan tujuan dari tanggap darurat, yaitu:
- Menyelamatkan kelangsungan kehidupan manusia
- Mengurangi penderitaan korban bencana
- Meminimalkan kerugian material
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Psikologis Masyarakat
Menurut kajian yang terbit dalam Al-Isyraq: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, dan Konseling Islam Vol. 7, No. 2 (2024) karya Hayatul Khairul Rahmat, “Kesibukan dalam kehidupan sehari-hari membuat individu sering merasa kelelahan yang berkepanjangan dan kurang mampu menghadapi situasi krisis yang muncul di sekitar mereka dengan efektif dan tanggap.” Selain itu, kajian tersebut juga menyatakan bahwa “Tingkat mobilitas yang tinggi, yang menjadi ciri khas masyarakat urban di era modern ini, juga membuat mereka kesulitan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap situasi yang berubah akibat bencana yang menghantam mereka tanpa henti.”

Di samping itu, buku Manajemen Bencana juga menyoroti bahwa ketidakpastian pasca bencana dan kurangnya jaringan dukungan dapat memperburuk kondisi mental korban. Beberapa faktor utama yang memengaruhi reaksi psikologis masyarakat antara lain:
- Kesibukan padat dan tekanan hidup sehari-hari yang menguras energi mental dan emosional.
- Tingginya ketidakpastian yang memicu kecemasan dan ketegangan.
- Rendahnya keterlibatan sosial serta kurangnya jaringan dukungan emosional.
- Ekspektasi terhadap pemulihan yang cepat yang menambah beban psikologis.
- Akses terbatas terhadap layanan kesehatan jiwa dan dukungan sosial yang konsisten.
Peran Psikologi Kebencanaan dan Pemulihan Sosial Psikologis
Buku Manajemen Bencana menjelaskan bahwa “Psikologi bencana dapat berperan signifikan dalam memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai ancaman bencana yang mungkin dihadapi oleh masyarakat setiap waktu dan memberi edukasi mengenai langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk menghadapinya.”
Sementara itu, kajian dalam Al-Isyraq menekankan bahwa “Dengan pendekatan yang didasarkan pada psikologi bencana, masyarakat dapat didorong untuk berpartisipasi dengan aktif dalam berbagai program persiapan bencana yang dirancang dengan baik dan matang, seperti penyusunan rencana evakuasi darurat yang terstruktur dengan rinci.”
Pemulihan sosial psikologis, sebagaimana diuraikan dalam buku Manajemen Bencana, adalah “pemberian bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana agar dapat berfungsi kembali secara normal. Sedangkan kegiatan psikososial adalah kegiatan mengaktifkan elemen-elemen masyarakat agar dapat kembali menjalankan fungsi sosial secara normal.” Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membangun pemulihan psikologis yaitu:
1. Beri kesempatan untuk mereka beradaptasi dan berduka sesuai dengan kondisi emosional masing-masing.
2. Mencari dukungan dari orang yang berempati atau kelompok yang pernah melalui bencana sebelumnya.
3. Mendapatkan bimbingan psikologis dari yang terlatih, termasuk melalui kelompok dukungan yang dapat membantu menyadarkan bahwa mereka tidak sendirian.
4. Membuat atau mengatur kembali rutinitas positif seperti makan tepat waktu, pola tidur teratur, atau melakukan hobi.
Sumber:
1. Al-Isyraq: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, dan Konseling Islam Vol. 7, No. 2 (2024), pp. 599-610 – Hayatul Khairul Rahmat (Program Studi Manajemen Bencana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Budi Luhur, Jakarta)
2. Manajemen Bencana Cetakan Pertama, Juni 2022 ISBN : 978-623-88071-1-6 – Moh. Rivai Nakoe, Nur Ayini S. Lalu (Terbitan UD Duta Sablon bekerja sama dengan Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo)
3. Wawancara dengan sejumlah petugas posko tanggap darurat banjir Desa Mulyorejo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan, 5 Februari 2026 di lokasi posko
ditulis oleh Handono Warih
