Infokotaonline.com
Bogor – Capaian swasembada beras yang diraih Indonesia patut diapresiasi. Namun, para pakar perlindungan tanaman mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut masih menghadapi ancaman serius dari serangan wereng batang cokelat dan penyakit virus kerdil padi. Dua organisme pengganggu tanaman ini berpotensi menurunkan produktivitas bahkan memicu gagal panen jika tidak diantisipasi sejak dini.
Peringatan tersebut mengemuka dalam Webinar Dokter Tanaman Series bertajuk “Waspada! Antisipasi Virus Kerdil Padi” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) IPB University, Minggu (25/1/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 450 peserta dari berbagai latar belakang secara daring.
Dalam paparannya, tim Himasita IPB University mengungkapkan adanya indikasi kemunculan kembali wereng batang cokelat serta gejala penyakit virus kerdil di sejumlah sentra produksi padi. Wilayah yang dilaporkan terdampak antara lain Lumajang, Subang, Tulungagung, Sragen, hingga Padang Pariaman. Temuan tersebut dinilai sebagai sinyal kuat agar kewaspadaan segera ditingkatkan.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Widodo, menekankan bahwa persoalan wereng dan virus kerdil tidak dapat dilihat secara parsial. Menurutnya, hama dan penyakit tanaman tidak mengenal batas administrasi, sehingga upaya pengendalian harus dilakukan secara kolektif dalam satu hamparan.
“Tanaman yang sehat tidak terjadi secara kebetulan. Ia merupakan hasil dari pengelolaan tanah yang baik, nutrisi yang seimbang, lingkungan yang mendukung, serta sistem budi daya yang ramah ekosistem,” ujar Prof Widodo.
Ia menambahkan, perubahan iklim yang ditandai dengan cuaca ekstrem, curah hujan tinggi, suhu hangat, dan kelembapan meningkat telah menciptakan kondisi ideal bagi perkembangan wereng dan penyebaran virus kerdil padi.
Pandangan senada disampaikan praktisi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) senior asal Lamongan, Khamim Ashari, SP. Ia menegaskan bahwa menjaga produksi padi tidak bisa dibebankan kepada petani secara individu.
“Jika satu hamparan bergerak bersama, risiko serangan bisa ditekan. Namun jika berjalan sendiri-sendiri, wereng akan selalu menemukan celah,” kata Khamim.
Menurutnya, virus kerdil padi—baik tipe kerdil rumput maupun kerdil hampa—dapat menyebar dengan cepat terutama pada fase awal pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, langkah pencegahan harus dilakukan sejak tahap perencanaan tanam.
“Tanam serempak, penggunaan varietas toleran, pemupukan berimbang, serta pemanfaatan musuh alami adalah kunci. Pendekatan preemtif harus menjadi prioritas dalam pengendalian wereng dan virus kerdil,” tegasnya.
Lebih jauh, Khamim menilai keberlanjutan swasembada beras juga ditentukan oleh kebijakan dan kelembagaan petani. Ia mencontohkan Desa Besur, yang berhasil memperkuat ketahanan pertanian melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dengan dukungan pemerintah desa dan pendanaan dana desa.
“Hasilnya nyata. Biaya budi daya menurun, sementara produksi meningkat hingga 3–5 ton per hektare. Ini bukti bahwa SLPHT dan kebijakan lokal mampu membuat pertanian lebih tangguh,” ungkapnya.
Webinar Dokter Tanaman Series sendiri menjadi wadah diskusi strategis yang diinisiasi Himasita IPB University untuk merespons dinamika di lapangan, memperkuat jejaring pelaku pertanian, serta mendorong sistem perlindungan tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim.
(csw)
