BATANG — Paguyuban Barisan Rakyat Kedungwuni Damai (Barakuda) menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-29 Omah Tani yang digelar di Desa Simbangjati, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Selasa (16/6/2026) malam. Dalam momen tersebut, Barakuda menyerahkan cinderamata berupa keris kepada Handoko, tokoh yang dihormati di lingkungan Omah Tani.
Ketua Omah Tani, Taroni, mengatakan peringatan ulang tahun ke-29 ini dipersiapkan dalam waktu singkat, yakni sekitar satu minggu, dengan tujuan mengonsolidasikan anggota serta memperkuat solidaritas organisasi.
“Untuk kegiatan hari ini, kita mengadakan ulang tahun yang ke-29. Persiapannya sekitar satu minggu untuk sosialisasi kepada anggota agar bisa mempersiapkan acara malam ini,” ujar Taroni.
Ia menyebutkan, kegiatan tersebut dihadiri sekitar seribu anggota Omah Tani, serta berbagai komunitas lain seperti Barakuda, Macan Ali dari Cirebon, Imastara dari Pekalongan, dan FKPB dari Batang.
Dalam momentum tersebut, Taroni berharap Omah Tani tetap solid dan konsisten dalam memperjuangkan keadilan bagi para petani.
“Semoga kita tetap solid, tetap berjuang, dan tetap semangat untuk mendapatkan keadilan. Untuk Barakuda, kami sangat berterima kasih karena sudah menjadi saudara dan teman baru untuk berjuang bersama,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Barakuda, Feri Kurniawan, mengungkapkan kehadiran pihaknya dalam acara tersebut menjadi sarana pembelajaran penting dalam membangun organisasi.
“Kami mendapatkan satu pelajaran penting, yaitu dalam mengelola organisasi itu penuh perjuangan. Tapi kalau dijalani dengan konsisten, tujuan bisa tercapai dan berkelanjutan,” ungkap Feri.
Ia juga berpesan kepada seluruh anggota agar terus menjaga semangat perjuangan dan soliditas organisasi.
“Jangan bosan untuk berjuang. Karena berjuang itu harus terus dilakukan, dan organisasi harus tetap solid,” tambahnya.

Di sisi lain, Pimpinan Divisi Hukum Omah Tani, Handoko, menyoroti persoalan konflik agraria yang dinilainya belum terselesaikan hingga saat ini. Ia menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam memutus mata rantai konflik yang telah berlangsung sejak lama.
“Sejak zaman Hindia Belanda sampai hari ini, konflik itu tidak pernah benar-benar diputus. Bahkan banyak tanah terlantar dibiarkan, dan pemerintah terkesan seperti memelihara konflik itu,” tegasnya.
Handoko juga menilai peran pemerintah, khususnya di sektor pertanian, belum maksimal dibandingkan masa lalu. Ia mencontohkan keberadaan petugas pertanian yang dulu aktif turun ke lapangan, namun kini dinilai tidak lagi terlihat.
“Dulu ada mantri pertanian yang turun langsung ke lahan. Sekarang kita tidak tahu mereka kerjanya apa. Dinas pertanian juga tidak terlihat perannya,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kemandirian petani agar tidak bergantung pada bantuan pemerintah. Menurutnya, kekuatan petani harus dibangun dari dalam komunitas itu sendiri.
“Kemandirian petani itu penting. Kami di Omah Tani tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah, dan memang tidak mau. Kita berjalan dengan cara kita sendiri, sederhana tapi hangat dan rukun,” tandasnya.
Peringatan HUT ke-29 Omah Tani tersebut berlangsung dalam suasana kebersamaan dan solidaritas antar komunitas, sekaligus menjadi momentum memperkuat komitmen perjuangan di bidang agraria.

