Infokotaonline. com
Pekalongan – Gelombang pemadaman listrik yang melanda wilayah Kabupaten Pekalongan belakangan ini mulai memukul sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tidak hanya melumpuhkan aktivitas produksi, gangguan pasokan daya ini juga memicu pembengkakan biaya operasional hingga mengancam kepercayaan pelanggan.
Dampak paling signifikan dirasakan oleh para pelaku usaha yang bergantung penuh pada mesin produksi. Di Kecamatan Doro, misalnya, pengusaha katering sekaligus pemilik kedai mie ayam hijau, Arofah, mengaku proses produksinya berjalan pincang setiap kali aliran setrum terputus.
“Ketika pemadaman terjadi saat proses penggilingan mie, kami sangat terganggu karena harus menggunakan gilingan manual yang membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga ekstra,” ujar Arofah saat ditemui, Rabu (24/6/2026).

Menurut Arofah, pemadaman yang berdurasi dua hingga empat jam tersebut kerap diperparah oleh faktor cuaca. Minimnya penerangan saat hujan dan terbatasnya pasokan air bersih berujung pada penurunan kualitas produk.
“Dampaknya, kualitas produksi kami jadi kurang bagus. Bahkan, biaya produksi bisa bertambah karena harus mengulang produksi. Produk yang kurang bagus akhirnya hanya bisa dijual seadanya,” imbuh Arofah lesu.
Kondisi serupa menjalar ke sektor kerajinan di Kecamatan Kesesi. Vino, seorang produsen tas spunbond asal Desa Watugajah, mengeluhkan durasi pemadaman yang terkadang mencapai tiga hingga lima jam. Akibatnya, ia terpaksa menanggung kerugian berantai dari sisi manajemen waktu dan finansial.
“Akibatnya, produksi terhambat, pengiriman jadi terlambat, dan itu bisa menimbulkan ketidakpercayaan dari pelanggan. Selain itu, kami juga harus menambah biaya lembur karyawan untuk mengejar target produksi,” beber Vino.
Merespons jeritan para pelaku usaha, Pemerintah Kabupaten Pekalongan melalui Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja (Dinkop UKM dan Naker) meminta para pelaku UMKM untuk lebih taktis dan adaptif.
Kepala Bidang UMKM Dinkop UKM dan Naker Kabupaten Pekalongan, Roufah Ainani, menyarankan agar para pengusaha lokal aktif memantau skema jadwal pemadaman resmi dari PLN. Langkah ini dinilai penting agar jadwal kerja karyawan dan intensitas mesin bisa disesuaikan sejak awal.
“Dengan mengetahui jadwal pemadaman, pelaku usaha bisa mengatur proses produksi agar tidak terganggu. Selain itu, penting juga meningkatkan literasi terkait penyimpanan makanan, terutama untuk produk beku saat listrik padam,” kata Roufah.
Di sisi lain, Roufah mendesak pihak PLN untuk lebih transparan dan masif dalam menyebarkan informasi terkait pemeliharaan jaringan guna mencegah kerugian yang lebih besar di tingkat masyarakat bawah.
“Kami berharap informasi pemadaman dapat disampaikan lebih luas, minimal tiga hari sebelumnya, sehingga pelaku usaha bisa lebih siap dan meminimalisir kerugian,” tandasnya.
(war)
