Aceh, 4 Desember 2025 – Banjir Besar Genangi Seluruh Desa Ranto Peureulak (Aceh Timur) Sejak 25 November 2025, Harga Barang Melonjak 2-3 Kali Lipat, Layanan Kritis Terganggu Parah
Lokasi: Seluruh desa di Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur (berdasarkan keterangan dari warga Desa Seumali)
Tanggal Kejadian: Mulai 25 November 2025 (Selasa) pagi, air surut 30 November 2025 (Minggu) pagi
Sumber: Keterangan dari Rian (warga Desa Seumali) dalam percakapan dengan Hands, wartawan Infokota, pada 4 Desember 2025
Pada 25 November 2025 (Selasa) pagi, air mulai naik secara tiba-tiba dan meluap ke permukiman warga di seluruh Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. “Hari Selasa pagi air naik, terus makin tinggi sampe malam Rabu,” ujar Rian, seorang warga Desa Seumali yang berbagi cerita dengan Hands, wartawan Infokota. Akibat tingginya air dan lumpur yang menyertai, warga dipaksa melakukan evakuasi massal pada malam 26 November 2025 (Rabu)—sesuai yang ia sampaikan ketika Hands menanyakan situasi evakuasi.
Air banjir menggenang selama 5 hari sebelum akhirnya mulai surut pada 30 November 2025 (Minggu) pagi di Desa Seumali. Namun, hingga saat percakapan berlangsung—4 Desember 2025—listrik dan jaringan internet di desa masih mati total. “Sampai saat ini listik dan jaringan mati d desaku,” ungkap Rian ketika Hands menanya tentang akses layanan komunikasi.
Dampak Terhadap Rumah dan Korban Jiwa
Meskipun tidak ada korban jiwa yang tercatat di Desa Seumali, kerusakan material cukup parah. “Desa ga ada korban jiwa tapi rumah yg hanyut 2 yg roboh 1 jadi total 3 rumah yg hancur,” katanya ketika ditanya oleh Hands apakah ada korban jiwa di desanya. Banyak rumah lainnya juga terendam lumpur tebal, membuat warga sulit segera kembali tinggal setelah air surut.
Kondisi Pengungsian dan Kesejahteraan Warga
Sebagian besar warga tidak bisa mengakses pos kebencanaan yang ada karena situasi darurat yang mendesak. “Kalo pos ada cuma gak sempat kami buat,” jelas Rian ketika Hands menanyakan lokasi pengungsian dan keberadaan pos kebencanaan. Sebagai gantinya, warga saling menampung satu sama lain di rumah tetangga. “D rumah tetangga… D t4 pengusngsi kluarga kami semua bg,” ujarnya.
Di antara pengungsi, terdapat 2 orang lansia dan sekitar 5 orang balita—kelompok yang paling rentan terhadap penyakit akibat kondisi lingkungan yang buruk. Namun, layanan medis sangat terbatas bahkan tidak ada sama sekali. Ketika Hands menanya, “Obat dan tim medis ada ga?” Rian menjawab, “Ngga. Obat harus beli sendiri.” Ia juga menambahkan bahwa puskesmas terdekat juga terendam banjir, sehingga warga hanya bisa membeli obat di apotek yang masih beroperasi dengan harga yang mahal.
Ekonomi dan Pasokan Barang Kebutuhan Pokok Terancam Parah
Kondisi darurat membuat harga barang kebutuhan pokok melonjak tajam hingga 2-3 kali lipat dari harga normal. Ketika Hands meminta Rian bercerita tentang apa yang ingin ia sampaikan, ia mengungkapkan: “Disini harga barang naik semua bg. Minyak pertalite eceran botol Aqua besar 70k, Beras 1 karung 300k, Gas elpiji 3kg ku dgar kabar 70k.”
Selain itu, pasokan sayur mayur dan telur habis habisan di desa. “Sayur mayur ga ada pasokan utk masuk, telur kosong,” katanya. Dampaknya dirasakan oleh semua lapisan masyarakat: “Ngeri lah bg pkoknya. Yang miskin makin miskin yang kaya jadi miskin.”
Akses Jalan dan Transportasi Sulit
Akses jalan menuju dan dari Kecamatan Ranto Peureulak baru bisa dilalui secara total sejak 2 Desember 2025 (Senin). Sebelumnya, jalan tergenang air dan lumpur, membuat kendaraan sulit lewat—sesuai yang ia sampaikan ketika Hands menanyakan kapan akses bisa dilalui.
Berdasarkan perhitungan jarak menggunakan peta digital, jarak tempuh antara Desa Seumali, Kecamatan Ranto Peureulak dan Kecamatan Peureulak di Kabupaten Aceh Timur sekitar 15-20 kilometer jika ditempuh dengan kendaraan melalui jalan raya yang tersedia. Waktu tempuh yang normalnya diperkirakan sekitar 30-45 menit, tergantung kondisi jalan dan lalu lintas. Namun, pasca banjir, kondisi jalan yang masih tergenang lumpur dan beberapa bagian yang rusak bisa memperlama waktu tempuh.
Untuk pergi ke daerah Peureulak (luar kecamatan) untuk membeli barang atau mengisi bensin, warga harus naik kereta dengan antrian yang sangat panjang. Ketika Hands menanya tentang perjalanan ke luar kota, Rian menjawab: “Perginya naik kereta niat nya ngisi d pom bensin, tapi ngantri nya mungkin bisa jadi paling cepat 5 jam.” Pulang juga tergantung stok minyak yang dibawa mobil Pertamina: “Kalo pulang nunggu dapet minyak. Kalo gak habis stok, kalo habis payah nunggu mobil antar minyak lagi buat ngisi. Kemungkinan bsok siang baru masuk lagi kalo ini habis.” Ia juga menambahkan bahwa mobil yang membawa minyak adalah mobil Pertamina ketika ditanya oleh Hands.
Tindakan Pemerintah dan Harapan Warga
Meskipun situasi sulit, pemerintah setempat telah mulai bergerak. “Pemerintah setempat lagi berusaha pasok bantuan bg,” ujar Rian ketika Hands menyebutkan ingin membantu viralkan bantuan yang belum sampai. Bahkan, Bupati Kabupaten Aceh Timur telah mengunjungi desa pada malam 27 November 2025 (Kamis)—saat banjir masih dalam kondisi paling parah. “Bupati nya pun udah sampai ke desa kami, bupati masuk malam kamis pas banjir besar,” katanya ketika Hands menanyakan keadaan kepala desa dan camat.
Harapan utama warga adalah kondisi segera pulih normal. “Harapannya semoga harga barang cepat stabil, akses internet kembali normal sama jalan yang hancur cepat d buat,” ungkap Rian sebagai pesan yang ingin ia sampaikan kepada publik melalui percakapan dengan Hands, wartawan Infokota. Selain itu, mereka juga mengharapkan listrik dan layanan kesehatan yang terganggu segera diperbaiki agar kesejahteraan warga terjaga.
Berita ini disusun berdasarkan keterangan dari warga terdampak yang berbagi cerita dalam percakapan dengan wartawan Infokota. Informasi akan diperbarui seiring dengan kemajuan penanganan bencana oleh pemerintah dan lembaga terkait.
Jurnalis juga seorang Konsultan Pertanian.
