Infokotaonline.com
Jakarta – Pemerintah berencana menggelontorkan investasi jumbo senilai Rp20 triliun untuk mengembangkan peternakan ayam terintegrasi di Indonesia. Kebijakan ini dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, namun di sisi lain memunculkan pertanyaan besar terkait dampaknya terhadap emiten unggas raksasa seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).
Rencana tersebut disampaikan Kementerian Pertanian dalam keterangan tertulis pada November 2025. Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan menyiapkan dana Rp20 triliun untuk membangun ekosistem peternakan ayam pedaging dan petelur yang terintegrasi, mulai dari pembibitan, pakan ternak, budidaya, hingga distribusi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, pengembangan peternakan ayam ini merupakan bagian dari percepatan hilirisasi pangan nasional. “Penguatan produksi ayam dan telur menjadi kunci untuk menjamin ketersediaan protein hewani yang terjangkau, terutama dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Investasi besar tersebut langsung menjadi sorotan pelaku pasar. Pasalnya, CPIN dan JPFA saat ini menguasai lebih dari 50% pangsa pasar nasional untuk segmen day old chick (DOC) dan pakan ternak. Masuknya pemain baru dengan sokongan modal negara berpotensi mengubah lanskap persaingan industri unggas dalam beberapa tahun ke depan.
Jika seluruh kapasitas produksi baru diarahkan ke pasar komersial, risiko oversupply ayam ras tak bisa diabaikan. Dengan nilai investasi Rp20 triliun, Danantara secara kasar mampu membangun sejumlah pabrik pakan ternak baru serta ratusan kandang modern berteknologi close house. Tambahan pasokan dalam waktu singkat berpotensi menekan harga ayam hidup dan margin pelaku usaha yang sudah ada.
Sebagai perbandingan, belanja modal tahunan CPIN dan JPFA umumnya berada di kisaran Rp2 triliun hingga Rp3 triliun. Artinya, investasi Danantara setara dengan sekitar tujuh hingga sepuluh tahun ekspansi pemain besar di industri unggas nasional.
Namun, urgensi proyek ini sejalan dengan tren konsumsi ayam yang terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi daging ayam ras mencapai sekitar 7,46 kilogram per kapita per tahun pada 2023, naik dari 5,69 kilogram pada 2019. Kementerian Pertanian juga mencatat pertumbuhan konsumsi ayam ras mencapai 4,31% pada periode 2022–2023.
Selain konsumsi rumah tangga, lonjakan permintaan ayam juga dipicu oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan protein hewani dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Ayam dipilih karena relatif murah, mudah diolah, dan diterima luas oleh masyarakat.
Di sisi lain, proyek Danantara tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Peluang kolaborasi tetap terbuka bagi CPIN dan JPFA, mulai dari penyediaan pakan, DOC, teknologi budidaya, hingga distribusi. Jika proyek ini difokuskan pada pengelolaan suplai dan stabilisasi harga, volatilitas pasar ayam yang selama ini menjadi persoalan kronis berpotensi lebih terkendali.
BPS mencatat, produksi daging ayam nasional mencapai 3,84 juta ton pada 2024, menegaskan besarnya skala industri ini. Dengan strategi yang tepat, investasi pemerintah justru dapat menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang, baik bagi ketahanan pangan nasional maupun pelaku usaha unggas besar.
(tim IK/csw)
Sanggahan: Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
