Infokotaonline.com
Bogor – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan kuatnya dominasi segelintir pelaku usaha dalam industri ayam dan telur nasional. Menurut Amran, hanya dua pengusaha besar yang menguasai sekitar 70 persen perputaran uang di sektor strategis tersebut, dari total nilai industri yang mencapai Rp 554 triliun.
Pernyataan itu disampaikan Amran saat menjadi pembicara dalam pendidikan dan pelatihan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/1/2026). Ia menilai konsentrasi penguasaan usaha ini menjadi persoalan serius bagi keberlangsungan peternak kecil.
“Nilai industri ayam dan telur ini Rp 554 triliun. Sebanyak 70 persennya dikuasai hanya oleh dua orang,” ujar Amran di hadapan peserta diklat.
Amran tidak menyebutkan identitas kedua pengusaha tersebut. Namun, ia menjelaskan bahwa perusahaan milik mereka mengendalikan rantai produksi secara terintegrasi, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Penguasaan itu mencakup produksi pakan, pembibitan ayam umur satu hingga dua hari atau day old chicken (DOC), hingga pengolahan daging ayam siap konsumsi.
Menurut Amran, struktur industri yang timpang membuat peternak kecil berada dalam posisi lemah dan sulit bersaing.
Dominasi perusahaan besar dinilai menekan harga di tingkat peternak sekaligus mempersempit ruang usaha rakyat.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak memusuhi pelaku usaha besar, namun mengingatkan agar sektor ekonomi rakyat kecil tidak sepenuhnya dikuasai oleh segelintir pemodal.
“Bukan kita benci mereka, tapi jangan masuk di sektor rakyat kecil. Ini ekonomi orang kecil,” katanya.
20 Triliun Untuk Ekosistem Terintegrasi
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyiapkan anggaran sebesar Rp 20 triliun
melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, guna membangun ekosistem peternakan ayam nasional. Lembaga yang mengkonsolidasikan aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu bakal membangun ekosistem peternakan ayam yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Ini bulan ini sebelum Ramadhan ini di-launching. Rp 20 triliun ini adalah BUMN,” tutur Amran.
Ekosistem tersebut meliputi produksi DOC, pakan ternak, budidaya ayam, hingga penyediaan fasilitas cold storage untuk daging ayam. Pada tahap awal, pemerintah menargetkan pembangunan 12 pabrik DOC, vaksin, dan pakan. Jumlah itu akan ditingkatkan menjadi 30 pabrik pada tahap berikutnya.
Amran menjelaskan, proyek ekosistem peternakan ayam terintegrasi tahap pertama akan dibangun di 12 provinsi yakni, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, dan Kalimantan Barat. Lalu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua Selatan, dan Jawa Timur.
Amran berharap langkah ini dapat mengurangi ketergantungan peternak kecil terhadap perusahaan besar serta menciptakan persaingan usaha yang lebih sehat.
“Inilah solusi permanen agar peternak kita tidak terus terbebani,” ujarnya.
Ia juga mengenang pengalamannya saat menjabat Menteri Pertanian pada 2017. Kala itu, Amran sempat mempertemukan dua pengusaha besar industri perunggasan untuk menekan harga ayam yang merugikan peternak. Permintaan tersebut awalnya ditolak, hingga ia mengancam akan memimpin aksi peternak kecil meski berisiko pada jabatannya.
Ancaman tersebut akhirnya membuat kedua pengusaha menyepakati penurunan harga, yang bahkan ditandatangani di atas sobekan kertas tisu dan dilaporkan kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Selain pembangunan ekosistem, pemerintah juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 50 triliun bagi peternak.
Pembiayaan ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan pasokan program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang membutuhkan tambahan produksi telur hingga 1 juta ton dan daging ayam sekitar 1,5 juta ton.
(csw)
