infokotaonline.com
Blangpidie – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, Ikatan Alumni (IKA) STKIP Muhammadiyah Aceh Barat Daya (Abdya) mendesak seluruh satuan pendidikan di wilayah tersebut untuk memperkuat edukasi anti-perundungan (anti-bullying). Langkah ini dinilai krusial guna memastikan siswa baru mendapatkan rasa aman dan nyaman selama mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Ketua Umum IKA STKIP Muhammadiyah Abdya, Maulia Rahman, S.Pd., mengungkapkan bahwa periode awal masuk sekolah merupakan fase yang sangat rawan terjadinya aksi perundungan antar-siswa. Terlebih, bentuk bullying saat ini telah bermutasi tidak hanya dalam bentuk fisik dan verbal, melainkan juga merambah ke ranah digital (cyberbullying) melalui grup WhatsApp kelas.
“Kami tidak ingin ada lagi siswa yang trauma hanya karena hari pertama sekolah,” ujar Maulia Rahman.
Ubah Tradisi Senioritas dengan Kegiatan Kreatif
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Maulia meminta pihak sekolah memasukkan materi anti-perundungan sebagai kurikulum wajib dalam pelaksanaan MPLS tahun ini. Edukasi yang diberikan harus fokus pada penumbuhan rasa empati, sikap saling menghargai perbedaan, serta pemahaman akan bahaya penyebaran konten negatif.
“Jangan sampai MPLS berubah jadi ajang perpeloncoan atau senioritas,” tegas Maulia.
Senada dengan hal tersebut, pengurus IKA STKIP Muhammadiyah Abdya, Maulia, mengusulkan agar tradisi senioritas yang destruktif segera diganti dengan program-program yang membangun karakter siswa. Beberapa alternatif yang ditawarkan antara lain program “Sahabat Baru”, sistem mentoring antarsiswa, hingga pengenalan ekstrakurikuler.
Menurut Maulia, energi dan potensi besar yang dimiliki para remaja harus disalurkan ke wadah yang positif seperti Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), olahraga, maupun bidang seni.
Optimalisasi Peran Guru BK dan Pengawasan Orang Tua
Di samping inovasi kegiatan, optimalisasi peran Guru Bimbingan Konseling (BK) juga menjadi sorotan utama. Guru BK diharapkan lebih aktif mensosialisasikan ciri-ciri korban perundungan, dampak buruknya terhadap kesehatan mental dan prestasi akademik, serta menyediakan jalur pengaduan yang menjamin keamanan identitas pelapor.
Keberadaan kotak pengaduan di sekolah pun harus difungsikan secara nyata, bukan sekadar formalitas. “Anak harus berani lapor kalau jadi korban,” kata Maulia.
Kendati demikian, benteng pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pihak sekolah. Maulia yang juga kader Muhammadiyah ini mengingatkan pentingnya sinergi dan pengawasan ketat dari orang tua di rumah, terutama terkait aktivitas digital anak di media sosial seperti TikTok dan Instagram, di mana konten prank atau tantangan kerap menjadi pemicu cyberbullying.
“Komunikasi 10 menit tiap hari dengan anak itu penting untuk deteksi dini,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret jangka panjang, IKA STKIP Muhammadiyah Abdya mendorong adanya kolaborasi strategis antara pihak sekolah dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Abdya untuk memberikan edukasi hukum terkait dampak pemalakan, tawuran, dan bullying.
Guna mewujudkan visi “Sekolah Ramah Anak” di bumi Breuh Sigupai, Maulia Rahman mengajak seluruh elemen masyarakat Abdya untuk bahu-membahu menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif.
“Mari kita sambut tahun ajaran baru dengan rasa aman, bukan rasa takut,” pungkas Maulia.
(Lia)
