Infokotaonline.com
Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, total luas sawah yang rusak akibat bencana alam di tiga provinsi di Pulau Sumatera telah mencapai 107.324 hektare. Kerusakan tersebut meliputi wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang dalam beberapa pekan terakhir dilanda banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya.
Mentan memastikan seluruh jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) terus bergerak sejak hari pertama bencana untuk mendampingi petani serta menangani pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak. Setiap laporan dari daerah langsung ditindaklanjuti dengan koordinasi dan penurunan tim ke lapangan.
“Kami tidak menunggu lama. Begitu mendapat laporan dari daerah, tim langsung turun. Negara harus hadir di saat petani menghadapi musibah,” tegas Mentan Amran saat rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (14/1/2026).
Berdasarkan data Kementan per 13 Januari 2026, dari total 107.324 hektare sawah terdampak, sebanyak 56.077 hektare mengalami kerusakan ringan, 22.152 hektare rusak sedang, dan 29.095 hektare rusak berat. Dari luasan tersebut, tanaman padi dan jagung yang mengalami puso atau gagal panen mencapai sekitar 44,6 ribu hektare.
Tak hanya sawah, bencana juga memukul sektor pertanian lainnya. Lahan perkebunan non-sawit seperti kopi, kakao, dan kelapa dalam tercatat terdampak seluas 29.310 hektare. Sementara itu, lahan hortikultura yang rusak mencapai 1.803 hektare. Dampak juga dirasakan pada subsektor peternakan, dengan jumlah ternak mati atau hilang lebih dari 820 ribu ekor.
Kerusakan turut melanda infrastruktur penunjang pertanian. Kementan mencatat 58 unit Rumah Potong Hewan (RPH) rusak, 2.300 unit alat dan mesin pertanian (alsintan) hilang, 74 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) terdampak, tiga bendungan mengalami kerusakan, jaringan irigasi rusak sepanjang 152 kilometer, serta 820 unit jalan produksi terganggu.
Mentan menegaskan, keselamatan petani dan keberlangsungan produksi pangan menjadi prioritas utama pemerintah. Karena itu, Kementan melalui jajaran teknisnya langsung melakukan pendataan kerusakan lahan, sarana produksi, serta dampak terhadap tanaman pangan dan hortikultura.
Sebagai respons cepat, Kementan menyalurkan bantuan darurat berupa alsintan untuk mempercepat pemulihan lahan pascabencana. Selain itu, langkah rehabilitasi lahan pertanian juga disiapkan agar aktivitas tanam dapat segera kembali berjalan.
Di Aceh, tim Kementan berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah, dinas pertanian, serta kelompok tani guna memastikan bantuan tepat sasaran sesuai kebutuhan di lapangan. Sementara di Sumatera Utara, fokus diarahkan pada percepatan normalisasi lahan pertanian terdampak banjir agar tidak mengganggu musim tanam dan produksi pangan regional.
Mentan juga menginstruksikan seluruh jajaran Kementan untuk bersinergi dengan kementerian/lembaga terkait, TNI/Polri, serta relawan dalam penanganan bencana, termasuk pengamanan stok pangan dan pendampingan petani.
Langkah cepat pemerintah ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Kehadiran langsung Kementan di lokasi bencana dinilai memberi harapan dan semangat bagi petani untuk bangkit kembali.
“Kami ingin memastikan petani tidak berjuang sendiri. Dengan kerja cepat dan kolaborasi semua pihak, kita optimistis sektor pertanian di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat segera pulih,” ujar Mentan Amran.
(csw)
