Infokotaonline.com
Lhokseumawe, Aceh – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) resmi memulai tahap rehabilitasi lahan sawah pascabencana di wilayah Sumatera. Total lahan terdampak yang akan ditangani mencapai 98.002 hektare di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dimulainya program pemulihan tersebut ditandai dengan groundbreaking rehabilitasi lahan sawah yang dilakukan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Lhokseumawe, Aceh, Kamis (15/1/2026). Rehabilitasi mencakup perbaikan lahan sawah, jaringan irigasi, serta pemulihan sarana dan prasarana produksi pertanian agar petani dapat segera kembali berproduksi.
Mentan Amran menegaskan, pemulihan sektor pertanian pascabencana merupakan tanggung jawab negara.
“Ini tanggung jawab kami sebagai Menteri Pertanian dan sebagai Kepala Badan Pangan Nasional,” tegasnya.
Sejak bencana melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025, Kementan langsung bergerak cepat melakukan penanganan darurat. Seluruh jajaran diminta mengambil langkah nyata begitu informasi bencana diterima.
“Begitu kedengaran ada bencana, kami langsung ke Kementerian Pertanian dan meminta seluruh pegawai serta mitra mengeluarkan sedekah terbaiknya untuk saudara-saudara kita di Sumatera,” ujar Amran.
Dari gerakan solidaritas tersebut, terkumpul donasi sebesar Rp75 miliar yang berasal dari gaji pegawai dan sedekah keluarga besar Kementerian Pertanian, termasuk dukungan Komisi IV DPR RI. Selain itu, Kementan juga menyalurkan bantuan pangan skala besar sesuai arahan Presiden RI.
“Bapak Presiden memerintahkan, kirim bantuan dan jangan menunggu surat. Itu sudah menjadi tanggung jawab kami,” katanya.
Data Kementan mencatat, kerusakan lahan sawah terluas terjadi di Aceh dengan total 54.233 hektare yang tersebar di 21 kabupaten/kota. Disusul Sumatera Utara seluas 37.318 hektare di 15 kabupaten/kota dan Sumatera Barat 6.451 hektare di 14 kabupaten/kota.
Dari total tersebut, kerusakan dengan kriteria ringan hingga sedang mencapai 69.240 hektare, terdiri atas kerusakan ringan 48.969 hektare dan kerusakan sedang 20.271 hektare. Rinciannya, Aceh 32.652 hektare, Sumatera Utara 32.964 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare. Khusus di Kabupaten Aceh Utara, luas kerusakan ringan-sedang tercatat 8.237 hektare.
Kementan memprioritaskan rehabilitasi pada lahan dengan kriteria ringan dan sedang. Tahap pengerjaan ditargetkan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026 dengan target awal rehabilitasi 13.708 hektare di tiga provinsi.
“Kami mulai dari yang ringan dan sedang, baru terakhir yang berat. Sekitar 90 sampai 95 persen akan kami selesaikan lebih dulu,” ujar Amran.
Di Aceh, rehabilitasi dilakukan dengan skema padat karya agar petani tetap memiliki penghasilan selama proses pemulihan.
“Rakyat yang bekerja, yang punya sawah bekerja. Upahnya dibayar oleh pusat. Jadi mereka mengerjakan lahannya sendiri,” katanya.
Dari sisi pembiayaan, Kementan menyiapkan anggaran rehabilitasi nasional seluas 10.000 hektare senilai Rp148,53 miliar yang direvisi untuk menangani kerusakan sedang di tiga provinsi. Selain itu, tersedia anggaran optimasi lahan sebesar Rp310 miliar untuk menangani kerusakan ringan.
Pekerjaan rehabilitasi meliputi perapihan pematang, normalisasi saluran irigasi tersier hingga primer, perbaikan bangunan irigasi seperti pintu air dan box bagi, serta pengolahan lahan. Kementan juga menyalurkan bantuan pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, serta sembako.
“Kepada Pak Gubernur kami berjanji dan janji itu kami tunaikan. Bantuan sudah kami kirim, traktor sudah kami kirim,” tegas Mentan Amran.
(csw)
